Penyihir Hati
Penyihir Hati
Apakah kamu percaya pada penyihir? Aku, iya.
Terlebih, pada penyihir hati.
Apakah aku terlalu berlebihan? Mungkin, iya.
Apakah aku terlalu melankolis? Mungkin, iya.
Apakah aku terlalu gombal? Mungkin, iya.
Lantas, mengapa aku percaya?
Akan aku ceritakan, satu cerita.
dia, yang memiliki hatiku.
Mugkin aku tahu, tapi aku tak pernah sadar.
dia, yang menjerat pikiranku, bertahun lamanya.
Mungkin aku tahu, tapi tak pernah memikirkannya.
dia, yang dulu menjadi cinta pertamaku.
Mungkin aku tahu, tapi aku selalu menampik kemungkinan itu.
dia, yang dulu sempat aku doakan yang terbaik.
Mungkin aku yang ingin jadi 'yang terbaik' itu, tapi aku mengabaikan peluang itu.
dia, yang pernah aku buat tertawa, manyun, ataupun hanya sempat melirik.
dia, yang pernah aku katakan merupakan makhluk terindah di dunia.
Kukatakan dia kalahkan semua keganasan dunia.
Kuanggap dia sebagai matahari dalam tiap mimpiku.
Kuangkat dia sebagai semua pahlawan imajinasiku.
Kubawa dia dalam setiap jejal ceritaku.
dia, yang pernah mengisi ruang hatiku, penuh.
dia, yang kemudian menghilang secara perlahan.
Dari pikiranku, dari hatiku.
Yang semula hadapkan mata ke mata, mulut ke mulut.
Berlanjut hanya senyum dan sadar.
Yang semula rajutan seratus kata.
Berlanjut hanya satu umpama rasa.
dia, yang kemudian aku gantikan dengan berbagai rupa bentuk dan rasa.
dia, yang saat menghilang membuatku terasa bebal.
Tapi ketika dia kembali, udara serasa kembali mengalir ke paru-paruku.
Kejutan listrik kembali berdenting ketika dia menyentuhku.
Darah ini bergejolak seperti ombak laut ketika dia memanggilku.
dia.
Yang aku tak pernah tahu seperti apa bentuknya dalam hidupku.
Mungkin aku inginkan dia seutuhnya untukku. Hanya untukku.
Tapi, aku hanya anggap itu sebagai 100% leluconku.
dia, yang tak pernah kukatakan aku suka, aku cinta.
dia, yang tak pernah mengatakan dia suka, dia cinta.
Mungkin aku benar suka, benar cinta. Tapi bukan di dunia ini. Tidak.
dia, yang kemudian ucapkan janji itu.
Mengikat dirinya dan pilihannya.
Mungkin aku bermimpi, aku yang seharusnya di tempat itu.
Tapi, aku tetap terpaku. Hanya doa dan harapan.
dia, yang kemudian lanjutkan hidup dan kenangannya sendiri.
Mungkin aku yang seharusnya disitu. Merekam segala memori itu.
Tapi aku hanya diam. Melihat dari perspektif bayangan.
dia, yang tak pernah kutahu apa isi hati dan pikirannya.
Mungkin aku bermimpi buruk, tapi sudah sangat menjalar.
dia, yang tak pernah menoleh dan melirik, setiap aku menatapnya.
Mungkin aku tak pernah tahu dan sadar, dia penyihir yang sangat ahli.
Tapi aku hanya berlalu, menertawakan diriku.
dia, yang tak pernah bertanya, 'apakah aku baik saja?'
dia, yang tak pernah sedikitpun mendekatiku dan bertanya, 'cerita padaku?'
dia, yang tak pernah melihat ke dalam mataku seolah berkata, 'aku disini'
dia, yang kubenci karena tak pernah hadir secara nyata.
Mengapa hadir dalam hati dan pikiranku?
Mengapa tak pernah lelah mendentangkan lonceng jantungku?
Mengapa tak pernah kusut mengganggu angan masa depanku?
Mungkin aku tak pernah tahu, apa yang telah ia lakukan padaku.
Mungkin dia pun tak tahu, apa yang telah dia lakukan padaku.
Mungkin dia tak sadar, sihirnya tak pernah lepas dariku.
Mungkin dia sengaja.
Tetap saja, aku menertawai diriku sendiri.
Aku begitu bodoh
Percaya dengan adanya penyihir
Penyihir hati.
Apakah kamu percaya pada penyihir? Aku, iya.
Terlebih, pada penyihir hati.
Apakah aku terlalu berlebihan? Mungkin, iya.
Apakah aku terlalu melankolis? Mungkin, iya.
Apakah aku terlalu gombal? Mungkin, iya.
Lantas, mengapa aku percaya?
Akan aku ceritakan, satu cerita.
dia, yang memiliki hatiku.
Mugkin aku tahu, tapi aku tak pernah sadar.
dia, yang menjerat pikiranku, bertahun lamanya.
Mungkin aku tahu, tapi tak pernah memikirkannya.
dia, yang dulu menjadi cinta pertamaku.
Mungkin aku tahu, tapi aku selalu menampik kemungkinan itu.
dia, yang dulu sempat aku doakan yang terbaik.
Mungkin aku yang ingin jadi 'yang terbaik' itu, tapi aku mengabaikan peluang itu.
dia, yang pernah aku buat tertawa, manyun, ataupun hanya sempat melirik.
dia, yang pernah aku katakan merupakan makhluk terindah di dunia.
Kukatakan dia kalahkan semua keganasan dunia.
Kuanggap dia sebagai matahari dalam tiap mimpiku.
Kuangkat dia sebagai semua pahlawan imajinasiku.
Kubawa dia dalam setiap jejal ceritaku.
dia, yang pernah mengisi ruang hatiku, penuh.
dia, yang kemudian menghilang secara perlahan.
Dari pikiranku, dari hatiku.
Yang semula hadapkan mata ke mata, mulut ke mulut.
Berlanjut hanya senyum dan sadar.
Yang semula rajutan seratus kata.
Berlanjut hanya satu umpama rasa.
dia, yang kemudian aku gantikan dengan berbagai rupa bentuk dan rasa.
dia, yang saat menghilang membuatku terasa bebal.
Tapi ketika dia kembali, udara serasa kembali mengalir ke paru-paruku.
Kejutan listrik kembali berdenting ketika dia menyentuhku.
Darah ini bergejolak seperti ombak laut ketika dia memanggilku.
dia.
Yang aku tak pernah tahu seperti apa bentuknya dalam hidupku.
Mungkin aku inginkan dia seutuhnya untukku. Hanya untukku.
Tapi, aku hanya anggap itu sebagai 100% leluconku.
dia, yang tak pernah kukatakan aku suka, aku cinta.
dia, yang tak pernah mengatakan dia suka, dia cinta.
Mungkin aku benar suka, benar cinta. Tapi bukan di dunia ini. Tidak.
dia, yang kemudian ucapkan janji itu.
Mengikat dirinya dan pilihannya.
Mungkin aku bermimpi, aku yang seharusnya di tempat itu.
Tapi, aku tetap terpaku. Hanya doa dan harapan.
dia, yang kemudian lanjutkan hidup dan kenangannya sendiri.
Mungkin aku yang seharusnya disitu. Merekam segala memori itu.
Tapi aku hanya diam. Melihat dari perspektif bayangan.
dia, yang tak pernah kutahu apa isi hati dan pikirannya.
Mungkin aku bermimpi buruk, tapi sudah sangat menjalar.
dia, yang tak pernah menoleh dan melirik, setiap aku menatapnya.
Mungkin aku tak pernah tahu dan sadar, dia penyihir yang sangat ahli.
Tapi aku hanya berlalu, menertawakan diriku.
dia, yang tak pernah bertanya, 'apakah aku baik saja?'
dia, yang tak pernah sedikitpun mendekatiku dan bertanya, 'cerita padaku?'
dia, yang tak pernah melihat ke dalam mataku seolah berkata, 'aku disini'
dia, yang kubenci karena tak pernah hadir secara nyata.
Mengapa hadir dalam hati dan pikiranku?
Mengapa tak pernah lelah mendentangkan lonceng jantungku?
Mengapa tak pernah kusut mengganggu angan masa depanku?
Mungkin aku tak pernah tahu, apa yang telah ia lakukan padaku.
Mungkin dia pun tak tahu, apa yang telah dia lakukan padaku.
Mungkin dia tak sadar, sihirnya tak pernah lepas dariku.
Mungkin dia sengaja.
Tetap saja, aku menertawai diriku sendiri.
Aku begitu bodoh
Percaya dengan adanya penyihir
Penyihir hati.
Komentar
Posting Komentar