Is it Art to be Depressed?

Aku pun bisa mengerti
Mengapa mereka lebih memilih mendengar, mengikuti desakan-desakan itu
Pikiran, suara, ajakan..
Karena kesepian yang saat itu mereka rasakan, aku rasakan
Ketika kehampaan, terlupakan, terabaikan, tak dibutuhkan, kesepian
Ketika segala sesuatunya menyatu
Waktu yang pas memberikan pilihan itu
Tempat yang menyesuaikan desakan itu
Semuanya begitu pas
Seakan memberikan kecondongan dan godaan lebih besar
Karena hanya itu pilihan satu-satunya
Untuk mengakhiri semuanya
Kedukaan, ketidaksukaan, kesengsaraan, ketidakterimaan
Harapan akan senyuman 
Ketika semua datang dan harapan pun lenyap seketika
Hanya tinggal harapan akan senyuman
Dan pertanyaan,
Akankah dukaku tetap berjalan?
Sejauh kumelihat, tiada cahaya bahkan ingin melirikku
Sejauh kumelangkah, tiada jalan kokoh siap membentengiku
Sejauh kubercerita, tiada orang sanggup untuk menopangku
Sejauh kumenyentuh kenyataan, tiada orang ingin menahan beban itu
Sejauh kumelepas topeng indahku, tiada orang betah untuk bersabar
Sejauh kubersikap, tiada orang mampu membacaku
Akankah kelamku tak berakhir?
Dan haruskah dengan begini aku mengakhirinya?
Haruskah aku memilih jalan ini?
Kesenyapan selamanya?
Karena godaan itu begitu membahana
Seakan fatamorgana yang semakin megah tiap harinya
Semakin kusendiri, semakin kencang dia berbisik
Semakin kumelepas diri, semakin kuat dia berkeliling
Pikiran dan hatiku jauh berkata, asa akan selalu ada
Dibalik semua gelapnya malam, akan selalu ada cerah mentari yang menanti
Tapi sampai kapan aku sanggup menunggu?
Hentakan itu semakin besar dan besar
Aku merasa sepenanggung dengan mereka yang sudah memilih
Aku memahami rasa itu
Kesendirian itu
Kesepian itu
Kesunyian itu
Aku ingin juga menjemput rasa itu
Menjauhi rasa saat ini
Melepas semuanya

Komentar

Postingan Populer